Home > Kata-Kata Inspirasi, Lomba, Sastra > Eyang Bumi Semakin Tua

Eyang Bumi Semakin Tua


Di tengah hiruk pikuk kota Jakarta, terjadi percakapan antara dua anak manusia.

Heh, Daur, darimana aja kamu?”tanya Si Ulang

Biasa Lang, dari TPA (Tempat Pembuangan Akhir) dekat sini tuh”, sahut si Daur.

Ngapain aja kamu di situ, kok aku lihat beberapa hari ini kamu berulang-ulang pergi ke sana?”, tanya Si Ulung.

Lalu kemudian Si Daur menceritakan mengapa dia sering pergi ke TPA beberapa hari ini. Ternyata si Daur tiap hari pergi ke TPA untuk mengamati pertambahan sampah di sana. Dia kaget karena tiap hari begitu banyak sampah menumpuk dan tak mampu diolah. Bau busuk yang menyengat dan banyak sekali nyamuk dan lalat yang berkeliaran. Dia berpikir dan membayangkan, bahwa beberapa tahun lagi jika terus menerus seperti ini, bisa-bisa kota Jakarta akan berubah menjadi kota sampah bukan lagi tetap tegak menjadi negara Ibukota Indonesia.

Begitu ceritanya, Lang” sahut si Daur setelah bercerita panjang lebar.

Benar juga yah, aku jadi bepikir sekarang, gimana jadinya yah Jakarta 5 tahun ke depan”kata si Ulang.

Keadaan sunyi sejenak. Mereka berpikir dan coba merenungi.

Tiba-tiba keduanya bersahut hampir bersamaan.

Kita harus bertindak!!!”sahut keduanya.

Keesokan harinya, di jam istirahat. Si Daur dan Si Ulang pergi ke perpustakaan di sekolah. Mencoba mencari beberapa referensi bagaimana cara agar bisa mengurangi dampak sampah dan memperlambat jumlah peningkatan sampah di TPA di sekitar rumah mereka. Membolak-balik buku. Melangkah di tiap-tiap rak. Tak terhitung berapa buku yang telah mereka obrak-abrik di atas meja. Sampai suatu ketika mereka menemukan buku tua berdebu yang menarik dan membuat mereka berhenti sejenak di pojok bawah rak buku berlabel Bumi. Di sampulnya bertuliskan Warisan Bumi Pertiwi Indonesia. Mereka bersihkan dan bawa buku itu, lalu mereka meminjamnya untuk dibawa pulang.

Teng, Teng, Teng, Teng……”Bel sekolah berbunyi, tanda kegiatan sekolah berakhir hari ini.

Si Daur dan Si ulang bergegas dan langsung berhamburan keluar kelas masing-masing. Mereka sudah tak sabar ingin mengetahui isi dari buku yang telah mereka pinjam di perpustakaan tadi. Selesai bersih-bersih diri mereka berjanji akan bertemu di bawah pohon beringin dekat TPA.

Satu jam kemudian mereka telah berkumpul di sana.

Hai Lang, ayo cepetan, kamu itu mesti terlambat kalau janjian. Jam karet itu tidak baik, bisa merugikan orang lain.”, Teriak Si Daur

Iya, iya maap, tadi masih bantu ibu beresin jualan di warung, maap yah”balas si Ulang.

Oh yah udah, ngak papa, lain kali kabari dulu Lang kalo emang kamu datang agak telat, khan kasian orang yang menunggu Lang” Nasehat si Daur.

Saat itu jam telah menunjukkan pukul 1 siang. Mereka lalu duduk berdampingan dan mulai membaca dan membolak-balik tiap halaman buku itu. Buku ini bagus, menceritakan mengenai keindahan alam Indonesia, mengenai kelimpahan sumberdaya alam yang dimiliki dan mengandaikannya sebagai warisan yang harus i jaga dan dipelihara oleh generasi penerus bangsa kelak. Kakayaan Laut dengan beraneka ragam ikan dan terumbu karang, keluasan negara bahari dan kekokohan hutan-hutan tropis di Kalimantan. Tak salah jika Indonesia di sebut sebagai negara “Paru-Paru Dunia”. Karena banyaknya hutan di Indonesia, sehingga berfungsi sebagai pau-paru Dunia raksasa penyuplai oksigen.

Sampai suatu ketika, mendekati berakhirnya buku itu, tiba-tiba ada secarik kertas jatuh. Ada dua bait puisi tertulis di belakangnya.

Eyang Bumi Semakin Tua

Setiap detik kamu membuka halaman ini,

Tiap detik warisan ini akan hilang.

Tak ada lagi Bumi warisan pertiwi

Yang ada hanya Eyang Bumi yang Semakin Tua.

Wahai kamu anak bangsa,

Masihkah kamu tega membiarkan Sang Bumi terindas,

Membiarkan kita merusaknya terus-menerus.

Angkat tanganmu anak bangsa, sudah tidak bisa kita berpangku lagi.

Berdirilah, Bergegaslah, ubah bumi tua ini, menjadi warisanmu kembali.

Jakarta, 2008

Suasana hening ketika mereka berdua selesai membaca dua bait puisi ini. Benar juga di batin mereka. Apa yang tertulis semua di buku ini begitu berkebalikan dengan dua bait puisi tersebut. Benar setiap detik kita membaca halaman buku ini, tiap detik warisan alam negeri ini akan hilang. Tak ada lagi suangai yang mengalir jernih, yang ada hanya sungai penuh sampah dan kotor. Tak ada lagi hitan yang lebat, yang ada hanya pembalakan dan pemotongan ilegal pohon-pohon yang menyebabkan bencana. Tak ada lagi lahan luas hamparan permadani palawija, yang ada hanya ratusan bangunan yang semakin kokoh berdiri. Mereka sadar jika mereka tidak bertindak, Eyang Bumi yang semakin tua ini akan benar-benar tak meninggalkan warisan untuk anak cucu kita kelak.

Lang kita harus mencari cara mengurangi dampak sampah ini!!!”, kata si Daur.

Iya, ayo kita buat rencana, kita kumpulkan kawan-kawan kita besok”, sahut Si Ulang.

Keesokan harinya, dengan semangat yang mengebu-gebu dan dengan tekad yang bulat untuk mengurangi dampak sampah di TPA dekat mereka. Si daur dan Si ulang bersama kawan-kawan mereka memutuskan untuk membuat suatu perkumpulan semacam pecinta alam yang bertujuan mengurangi dampak lingkungan dan sampah disekitarnya dan berusaha mencari solusi dampak tersebut. Mereka sepakat memberi nama perkumpulan tersebut “Daur Ulang” di ambil dari dua nama ketua dan wakil ketua mereka si Daur dan Si Ulang.

Tugas mereka selanjutnya adalah mulai dengan men-daur ulang sampah, mulai dari hal yang terkecil di sekitar mereka. Mulai menyisihkan sampah organik dan sampah non-organik semisal plastik, kaca, botol dan karet. Untuk sampah organik mereka daur ulang, mereka bakar dan pendam lalu diproses menjadi pupuk kompos. Lalu mereka membangun taman kecil di sekitar TPA dan menggunakan pupuk tersebut untuk menumbuhkan tanaman-tanaman yang ditanam di taman.

Sampah non-organik mereka daur ulang menjadi barang kerajinan tangan, mulai dari mendaur-ulang kertas bekas menjadi kertas seni, dan mengubah botol-botol bekas menjadi aneka macam lampu hias dan vas bunga. Hasil penjualan hasil daur ulang tersebut mereka gunakan untuk keperluan penyelamatan lingkungan, seperti membuat teknologi biopori. Canya mudah, mereka tinggal memberi beberapa meter pipa paralon dan memotongnya seukuran 30 cm. Lalu mereka tanam di halaman sekitar rumah mereka. Cukup 4-8 buah di tiap rumah.

Di pipa tersebut bagian atas diberi jaring kawat tipis dan kecil untuk sirkulasi udara dan dimasukkan sampah sedikit-sedikit, lalu dibiarkan sampah tersebut terdekomposisi atau terurai secara alami selama 1 minggu. Dan jadilah pupuk kompos alami. Pupuk lalu diambil, dan dimasukkan sampah lagi di lubang tersebut. Cara biopori ini selain berfungsi untuk menguraikan sampah.juga berfungsi sebagai penyerap air sehingga dapat mengurangi dampak banjir. Sebuah ilmu yang bermanfaat buat mereka dan mereka temukan itu semua di “Perpustakaan”.

Mungkin perpustakaan setua kakek dan nenek kita, namun dia bisa selalu mengajarkan tentang segala hal”

———————————————-Sekian——————————————-

Advertisements
  1. March 30, 2011 at 21:30

    wah, cerita yang ini lebih panjang dari punya saya ya.
    karena eyang sudah tua, cucu2 di bumi patut bekerja sama merawatnya 😀

    • March 31, 2011 at 08:48

      hehehe, iya cucu2nya harus memelihara warisan negeri ini, agar cicit-cicit kita bisa melihat keindahan negeri ini kelak ^_^v

  2. March 30, 2011 at 22:36

    Dari buku segala hal bisa kita tahu dan segala ilmu bisa kita pelajari kemudian dipraktekkan akhirnya memberi manfaat yang luar biasa…

    Nice post… 🙂

    • March 31, 2011 at 08:39

      Yup, Buku sumber pengetahuan dunia, tanpa dia mungkin peradaban g’ akan pernah ada, makasih kunjungannya kawan ^_^v

  3. Eks
    March 31, 2011 at 07:27

    semoga beruntung kawan 😀 selamat berkompetisi…

    • March 31, 2011 at 08:38

      Yup sama sama kawan, makasih da berkunjung hehe ^_^b

  4. March 31, 2011 at 11:31

    eyang eyang ku, eyang eyang ku…
    hehehe,
    moga beruntung man, jangan lupa, royalty buat aku, 😀

    • March 31, 2011 at 12:34

      hadeyy…si snail lewat wkwkkw,….piye nail, bikin lagi a?

  5. March 31, 2011 at 15:21

    Yang ini bagus neh.. dongengnya temanya lingkungan

    • March 31, 2011 at 18:10

      iya mas hehehe, jadi malu, eh mas ngeblog di detik enak g’ mas?? pengen kapan2 ke sana

  6. March 31, 2011 at 23:07

    Si Daur dan Ulang, satu ide cerdas menjadikan istilah ini menjadi tokoh cerita. Bagus. Semoga menang di kontes ya.

    • April 1, 2011 at 08:07

      aminn ^_^, makasih udah berkunjung mas, hehehe, kapan2 mampir lagi yah

  7. April 1, 2011 at 11:23

    Kayanya kita harus lebih bersahabat dengan si Daur dan Si Ulang nech…Biar eyang bumi bisa terseyum ceria kembali..:D

    keyeeeeeen…

    Happy writing ya masnya..:D

    • April 1, 2011 at 16:41

      Yup sama2 yasinta, ^_^ makasih da berkunjung hehehe, lam kenal sekalian yah

  8. April 1, 2011 at 14:32

    Andai semua anak bangsa sadar kayak Daur ma Ulang ya 😀
    Sukses kontesnya…

    • April 1, 2011 at 16:43

      amiin yang puanjaaang ^_^, sukses juga buat chocovanilla, ^_^

  9. April 1, 2011 at 16:46

    Semangat … semoga banyak manfaatnya. Links updated!

  10. wiy
    April 2, 2011 at 15:20

    kunjungan siang hari, oooiya mau cari follow aja kok

  11. MT
    April 4, 2011 at 03:20

    salam kenal saja dulu. numpang baca

  1. April 23, 2011 at 07:16

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s