Home > Artikel Bebas, Peristiwa > Futsal Semacam Realita Kehidupan Indonesia

Futsal Semacam Realita Kehidupan Indonesia


Futsal realita kehidupan IndonesiaHari Minggu kemarin dapat traktiran kawan-kawan SUPER TIP’ 06 main futsal di Arena Stadium. Lokasi di Malang daerah Dieng. Awan mendung saat itu mengawal kita berangkat ke sana. Namun toh kawan-kawan SUPER saya ini tak takut dengan gerimis dan mendung, langsung hajar. Walhasil 19 orang telah terkumpul. Yup futsal, olahraga favorit kami dan mungkin bisa dibilang sekarang lagi trendy sebagai olahraga para pemuda. Baguslah saya bilang, dengan begini generasi mudah bisa lebih sehat dan bisa terhinar sedikit dari bahaya NARKOTIKA.

Oke, kenapa futsal saya sebut sebagai realita kehidupan Indonesia. Sebenarnya cerita berawal di Arena Stadium ini, setelah bermain dengan kawan-kawan saya, eh tidak tahunya setelah itu ada kompetisi sepakbola futsal. Saya kurang tahu nama liganya, tapi penontonnya banyak dan berjubel dan sebagian besar orang cina dan orang Indonesia Timur. Selidik punya selidik, tanya sini tanya situ akhirnya dapet juga kabar. Ternyata ini “Liga Gereja” dan kebetulan ada beberapa komunitas Nasrani yang sedang membentuk event ini.

Even berjalan menarik, seru saya bilang. Karena semua campur baur baik itu kulit putih maupun berwarna. Saling berkompetisi untuk memenangkan lomba tersebut. Awal yang bagus, namun mulai panas di tengah pertandingan. Pertandingan masih riuh dengan penonton yang berteriak-teriak. Saling mendukung memberikan support dan semangat untuk rekannya yang bertanding. Saya pun terhanyut dan ikut mendukung bersama kawan-kawan saya, karena kebetulan di Luar Hujan deras yah, sekalian menunggu hujan kita sekalian nonton.

Pertandingan mulai panas. Yang semula bisa campur baur penontonnya, sekarang mulai agak ramai mencaci wasit. Yah, kasian wasitnya udah mencoba adil tapi masih saja diperolok seperti itu, batin saya. Memuncak ketika Tim yang semula ungul 2-0 sekarang berbalik tertinggal jadi 2-3. Paling puncak adalah ketika salah satu pemain diganjar kartu merah karena kedapatan memakai aksesoris yang dilanggar dalam pertandingan.

Sampai hal yang mungkin tidak patut masuk telinga saya datang dari pelatih tim yang kalah. Kebetulan dia duduk tak jauh dari dekat saya. “Woi, ton sini, apa itu masak memakai kayak gitu di kartu merah, urus wes, bayar wasitnya, kayak biasanya, mosok g’ ngerti seh“. Yup, merinding saya mendengar dia bilang begitu. Realita bahwa semua ternyata ujung-ujungnya duit.

Semua realita yang baik di awal, berbaurnya semua suku bangsa harus hancur persepsinya oleh saya karena tindakan salah satu orang. Ujung-ujungnya Duit di negara ini. Uang berkuasa. Saya sudah tidak bisa bilang apa-apa lagi dah. Futsal aja bisa menggambarkan realita besar kehidupan Indonesia kita.

Advertisements
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s